Senin, 07 Januari 2013

PENCAK SILAT CIMANDE PAJAJARAN

Aliran pencak silat memang banyak ragamnya, namun aliran yang pernah saya ikuti adalah pencak silat aliran CIMANDE. Menurut guru saya Pak Tomo yang tergabung dalam Keluarga Besar Pajajaran Cimande, Cimande adalah singkatan dari Ciri Manusia Hade. Dalam latihan bersama Pak Tomo terbagi menjadi tiga kelas untuk membedakan tingkatan kemampuan, mulai dari sabuk hijau, kuning dan puncaknya sabuk merah. Dalam satu gabungan gerakan (limbung) terdiri atas 4-8 gerakan. Jika ditelusuri lebih dalam aliran Cimande berasal dari daerah Bogor yaitu di desa Tarikolot dan gerakan dasar cimande berasal dari gerakan monyet. Zaman dulu pencipta cimande terinspirasi dari gerakan monyet yang sedang mengusir macan karena mengganggu wilayahnya. Monyet itu tidak banyak melakukan serangan namun lebih banyak mengelak dari serangan macan itu.


Bagi khalayak umum di JABODETABEK, Cimande lebih dikenal sebagai ahli patah tulang yaitu memperbaiki tulang yang patah dengan cara tradisional. Biasanya kesenian pencak silat cimande dipertunjukan ketika ada acara-acara pembukaan kegiatan di daerah-daerah. Menurut Pak Tomo Keluarga Besar Padjajaran Cimande juga aktif mengikuti perlombaan pencak silat baik tingkat daerah atau nasional. 

Dalam pandangan Pak Ace (guru besar Cimande Pajajaran), pencak silat Cimande sebenarnya bagian dan keseharian dari kehidupan kita manusia. Misalnya jika ada yang mau memukul, secara refleks tangan kita menagkis. Atau jika mau jatuh, maka tubuh dan kaki kita langsung menyesuaikan.Hanya saja oleh Abah Khair, hal tersebut diramu dan dirumuskan dalam bentuk pelajaran yang tersistematis dan gampang untuk dipelajari,jadilah maenpo Cimande.

Aliran Cimande terdiri dari 33 jurus kelid cimande, pepedangan dan tepak selancar. Tangan adalah permainan dominan, kaki lebih merupakan pancer dan tempat berpijak yang harus dijaga keseimbangannya.Menurut Kang Asep, saat ini cara berlatih cimande sedikit disempurnakan , yaitu dengan cara menghapal jurus etrlebih dahulu dengan benar hingga 33 jurus, sambut berpasangan, lalu belajar pepedangan dan diakhiri dengan tepak salancar.Dengan hapal dulu jurus yang 33 itu diharapkan siswa dapat mengetahui gerakan yang benar, cara menangkis, mengelak , memukul dan lain lain. Dalam satu jurus ada yang satu gerakan atau 4-5 gerakan.

“Sederhana dan tidak panjang-panjang sehingga gampang dihapal serta tangan yang kuat diperlukan untuk membendung serangan lawan”, kata Kang Asep. Sebagai sarana pertahanan dan sekaligus alat serangan, tangan dalam cimande mendapat latihan secara khusus, melalui sambut maupun latihan benturan lainnya.


Prihatin

Menilik perkembangan Cimande sebagai aliran silat yang besar dan berpengaruh dalam jagat persilatan dunia, Pak Ace sebenarnya turut berbesar hati. Namun hal tersebut kurang diimbangi dengan kuatnya persatuan dan persaudaraan pada tubuh internal keluarga cimande. “itulah sebabnya saya tidak setuju nama cimande dibawa-bawa dalam kegiatan dukung mendukung kontestan pilkada atau berpolitik lainnya”, tegas PakAce.

Sebagai suatu aliran, cimande hendaknya netral dan lebih menekankan faktor budaya dan akhlak sesuai talek cimande, dan itulah yang menjadi pegangan utama para pelaku Cimande. Belum lagi kalo mengalami ‘kejatuhan’ maka akan merusak cimande secara keseluruhan.

Kendari demikian tetap saja, sebagai manusia, masih ada kelemahan. Ada yang silau oleh kesaktian hingga mengklaim bahwa ilmu kanuragan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Cimande. Ada yang terperangkap oleh jeratan fulus alias duit sehingga mau melakukan apa saja yang tidak ada hubungan dengan pencak silat ataupun semata demi komersialisasi sehingga dengan mudah dimanfaatkan pihak luar untuk kepentingan mereka. Kendati kita dapat menemui beberapa padepokan cimande, sayangnya antara satu padepokan dengan yang lainnya terjalin hubungan yang agak longgar dan kurang rapat-erat.

Sungguh suatu kondisi yang memprihatinkan, ungkap Pak Ace. Sambil berharap agar keadaan dapat lebih baik dengan berbagai daya upaya untuk memperbaikinya.Inilah Cimande dengan berbagai kelebihan dan masalahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Cimande tetaplah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan bersama. 



(DARI BERBAGAI SUMBER)

4 komentar:

  1. Terimakasih, saya adalah pengagum silat Cimande dan baru mulai belajar

    BalasHapus
  2. betapa indahnya silat cimande dengan iringan musik tradisional

    BalasHapus
  3. Petinju legendaris Muhammad Ali terlihat sangat indah sewaktu menari-nari di ring tinju saat pertempuran berlangsung, akan tetapi jauh lebih indah tarian para pesilat Cimande dengan iringan musik tradisional, mari kita lestarikan

    BalasHapus
  4. saya juga pernah berlatih silat cimande dan sampai pada saat ini saya berusaha terus mengingatnya karena cimande benar benar telah menjadikan saya tahan menghadapi berbagai macam cobaan dan saya lebih bangga belajar cimande dari pada jenis bela diri impor dari negara lain.

    BalasHapus